Heins - Aktifitas dan kesibukan yang tinggimembuat banyak orang mengambil jalan mudah dengan mengonsumsi suplemen untuk mengimbangi kebutuhan makan.
Namun demikian konsumsi secara berlebihan dapat berakibat fatal buat kesehatan. Suplemen dan obat yang dapat membahayakan Ginjal. Beberapa suplemen dapat membebani fungsi ginjal, terlebih jika dikonsumsi secara berlebihan.
![]() |
ilustrasi vitamin dan suplemen yang dapat membahayakan kesehatan ginjal - © canva.com |
Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan konsumsi setiap suplemen sesuai ketentuan demi menjaga kesehatan ginjal.
Dikutip dari berbagai sumber, berikut adalah 7 daftar suplemen umum yang bisa membahayakan kesehatan ginjal:
Dikutip dari berbagai sumber, berikut adalah 7 daftar suplemen umum yang bisa membahayakan kesehatan ginjal:
1. Vitamin C
Vitamin C memang penting untuk sistem kekebalan tubuh dan produksi kolagen.
Namun, konsumsi dalam dosis sangat tinggi seperti di atas 2.000 mg per hari, dapat membahayakan kesehatan ginjal.
Dikutip dari Medical News Today, asupan vitamin C berlebih bisa saja menyebabkan terbentuknya kristal oksalat, yang dapat menumpuk di ginjal dan meningkatkan risiko batu ginjal.
Dalam kasus yang jarang terjadi, terbentuknya kristal oksalat juga dapat menimbulkan kerusakan ginjal yang lebih parah.
Risiko ini menjadi lebih besar bagi individu yang memiliki masalah ginjal sebelumnya.
Sebuah penelitian pada 2013 menemukan bahwa suplemen asam askorbat yang juga dikenal sebagai vitamin C dikaitkan dengan risiko batu ginjal pada pria.
Para peneliti menyimpulkan bahwa suplemen asam askorbat dosis tinggi, dikaitkan dengan peningkatan risiko pembentukan batu ginjal hingga dua kali lipat, tergantung pada dosisnya.
Namun, konsumsi dalam dosis sangat tinggi seperti di atas 2.000 mg per hari, dapat membahayakan kesehatan ginjal.
Dikutip dari Medical News Today, asupan vitamin C berlebih bisa saja menyebabkan terbentuknya kristal oksalat, yang dapat menumpuk di ginjal dan meningkatkan risiko batu ginjal.
Dalam kasus yang jarang terjadi, terbentuknya kristal oksalat juga dapat menimbulkan kerusakan ginjal yang lebih parah.
Risiko ini menjadi lebih besar bagi individu yang memiliki masalah ginjal sebelumnya.
Sebuah penelitian pada 2013 menemukan bahwa suplemen asam askorbat yang juga dikenal sebagai vitamin C dikaitkan dengan risiko batu ginjal pada pria.
Para peneliti menyimpulkan bahwa suplemen asam askorbat dosis tinggi, dikaitkan dengan peningkatan risiko pembentukan batu ginjal hingga dua kali lipat, tergantung pada dosisnya.
2. Vitamin D
Vitamin D merupakan nutrisi penting untuk kesehatan tulang.
Namun, konsumsi berlebihan vitamin tersebut dapat menyebabkan terjadinya penumpukan kalsium dalam darah (hiperkalsemia).
Kadar kalsium yang tinggi ini bisa memicu kalsifikasi di ginjal, yang berpotensi merusak jaringan dan mengganggu fungsinya.
Risiko konsumsi berlebih meningkat jika suplemen dosis tinggi dikombinasikan dengan makanan yang telah diberi nutrisi tambahan (difortifikasi).
Namun, konsumsi berlebihan vitamin tersebut dapat menyebabkan terjadinya penumpukan kalsium dalam darah (hiperkalsemia).
Kadar kalsium yang tinggi ini bisa memicu kalsifikasi di ginjal, yang berpotensi merusak jaringan dan mengganggu fungsinya.
Risiko konsumsi berlebih meningkat jika suplemen dosis tinggi dikombinasikan dengan makanan yang telah diberi nutrisi tambahan (difortifikasi).
3. Kreatin
Kreatin (creatin) sering dikonsumsi oleh para penggemar gym dan kebugaran untuk meningkatkan pembentukan otot dan performa atletik.
Namun, jika dikonsumsi dalam dosis tinggi, suplemen kreatin dapat memberikan tekanan tambahan pada ginjal.
Hal ini disebabkan oleh peningkatan kadar kreatinin, yaitu produk limbah yang harus disaring oleh ginjal, sehingga dapat menyerupai atau memperparah gangguan fungsi ginjal.
Individu dengan kondisi medis tertentu memiliki risiko lebih tinggi.
Meskipun kreatin umumnya aman bagi orang sehat, dehidrasi atau penggunaan jangka panjang tanpa pemantauan dapat menyebabkan stres pada ginjal.
Namun, jika dikonsumsi dalam dosis tinggi, suplemen kreatin dapat memberikan tekanan tambahan pada ginjal.
Hal ini disebabkan oleh peningkatan kadar kreatinin, yaitu produk limbah yang harus disaring oleh ginjal, sehingga dapat menyerupai atau memperparah gangguan fungsi ginjal.
Individu dengan kondisi medis tertentu memiliki risiko lebih tinggi.
Meskipun kreatin umumnya aman bagi orang sehat, dehidrasi atau penggunaan jangka panjang tanpa pemantauan dapat menyebabkan stres pada ginjal.
4. Suplemen Herbal
Suplemen herbal sering dipilih oleh mereka yang menginginkan sumber suplemen alami.
Namun, beberapa suplemen seperti aristolochia yang terkandung dalam produk penurun berat badan atau detoks tertentu dan akar licorice dapat bersifat toksik bagi ginjal.
National Kidney Foundation menyarankan untuk menghindari penggunaan suplemen herbal, terutama bagi individu yang memiliki penyakit ginjal.
Namun, beberapa suplemen seperti aristolochia yang terkandung dalam produk penurun berat badan atau detoks tertentu dan akar licorice dapat bersifat toksik bagi ginjal.
National Kidney Foundation menyarankan untuk menghindari penggunaan suplemen herbal, terutama bagi individu yang memiliki penyakit ginjal.
5. Suplemen Protein
Suplemen protein ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi bermanfaat, namun jika digunakan secara berlebihan dapat memberi tekanan pada tubuh.
Sama seperti kreatin, suplemen ini sering digunakan oleh para pecinta gym.
Sayangnya, konsumsi suplemen protein yang berlebihan tetap saja dapat membebani kerja ginjal.
Oleh karena itu, penting untuk memprioritaskan asupan protein dari sumber alami seperti daging tanpa lemak, unggas, ikan, telur, produk susu, kacang-kacangan, biji-bijian, dan kedelai.
Sama seperti kreatin, suplemen ini sering digunakan oleh para pecinta gym.
Sayangnya, konsumsi suplemen protein yang berlebihan tetap saja dapat membebani kerja ginjal.
Oleh karena itu, penting untuk memprioritaskan asupan protein dari sumber alami seperti daging tanpa lemak, unggas, ikan, telur, produk susu, kacang-kacangan, biji-bijian, dan kedelai.
6. Obat Antiinflamasi (NSAID)
Dilansir dari Cleveland Clinic, obat antiinflamasi untuk mengobati nyeri dan peradangan termasuk penyebab penyakit ginjal jika digunakan dalam jangka panjang.
Obat antiinflamasi ini meliputi aspirin, ibuprofen, dan naproxen.
Obat-obat tersebut tidak boleh diminum setiap hari tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Obat antiinflamasi ini meliputi aspirin, ibuprofen, dan naproxen.
Obat-obat tersebut tidak boleh diminum setiap hari tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
7. Antibiotik
Antibiotik seperti penisilin dan sefalosporin dikonsumsi untuk melawan infeksi yang disebabkan bakteri.
Obat ini harus dihabiskan sesuai resep dokter. Jika seseorang tidak melakukannya, hal tersebut dapat membuat pengobatan infeksi tidak berjalan efektif dan menyebabkan masalah ginjal akut.
Konsumsi antibiotik tanpa resep dokter, terutama dalam jangka panjang, juga berpotensi merusak ginjal. Kondisi itu bisa terjadi bahkan jika antibiotik dikonsumsi oleh individu dengan fungsi ginjal normal.
Obat ini harus dihabiskan sesuai resep dokter. Jika seseorang tidak melakukannya, hal tersebut dapat membuat pengobatan infeksi tidak berjalan efektif dan menyebabkan masalah ginjal akut.
Konsumsi antibiotik tanpa resep dokter, terutama dalam jangka panjang, juga berpotensi merusak ginjal. Kondisi itu bisa terjadi bahkan jika antibiotik dikonsumsi oleh individu dengan fungsi ginjal normal.
8. Proton Pump Inhibitor (PPI)
PPI adalah obat antasida untuk mengurangi masalah pada lambung.
Obat ini digunakan dalam pengobatan penyakit gastrointestinal, seperti tukak lambung, GERD, dan infeksi bakteri Helicobacter pylori. Contoh obat ini adalah omeprazole dan lansoprazole.
Dikutip dari Health Line, penggunaan obat lambung dalam jangka panjang dengan dosis tinggi secara terus-menerus berpotensi meningkatkan risiko penyakit ginjal.
Obat ini digunakan dalam pengobatan penyakit gastrointestinal, seperti tukak lambung, GERD, dan infeksi bakteri Helicobacter pylori. Contoh obat ini adalah omeprazole dan lansoprazole.
Dikutip dari Health Line, penggunaan obat lambung dalam jangka panjang dengan dosis tinggi secara terus-menerus berpotensi meningkatkan risiko penyakit ginjal.
9. Obat Tekanan Darah
Obat tekanan darah berupa angiotensin-converting enzyme inhibitor (ACEI) dan angiotensin II receptor blocker (ARB) berguna dalam mengendalikan tekanan darah serta mengurangi risiko stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya.
Obat ACEI yang umum beredar di pasaran meliputi benazepril/lotensin, enalapril, dan linisopril. Sementara obat ARB antara lain berupa azilsartan, candesartan, dan isbesartan.
Penderita hipertensi yang menjalani pengobatan dengan obat-obatan tersebut tidak boleh berhenti mengonsumsinya kecuali disarankan dokter. Tetapi, obat-obat tersebut dapat mengganggu ginjal.
Obat ACEI yang umum beredar di pasaran meliputi benazepril/lotensin, enalapril, dan linisopril. Sementara obat ARB antara lain berupa azilsartan, candesartan, dan isbesartan.
Penderita hipertensi yang menjalani pengobatan dengan obat-obatan tersebut tidak boleh berhenti mengonsumsinya kecuali disarankan dokter. Tetapi, obat-obat tersebut dapat mengganggu ginjal.
10. Obat Pencahar
Obat pencahar yang dijual bebas atau diresepkan dokter dapat meninggalkan kristal ginjal yang dapat merusak organ tersebut atau menimbulkan gagal ginjal. Kondisi ini terutama berlaku pada obat yang mengandung natrium fosfat oral atau OSP.
Untuk mencegah risiko gangguan ginjal akibat obat-obatan yang dikonsumsi, pastikan ikuti instruksi pengobatan dan tidak mengonsumsi obat tersebut dalam jangka panjang.
Untuk mencegah risiko gangguan ginjal akibat obat-obatan yang dikonsumsi, pastikan ikuti instruksi pengobatan dan tidak mengonsumsi obat tersebut dalam jangka panjang.
11. Obat Psikiatris
Obat yang diresepkan dokter untuk mengobati masalah kesehatan mental juga berisiko menyebabkan masalah ginjal. Obat ini seperti prozac atau fluoxetine yang dipakai sebagai antidepresan.
Obat penstabil suasana hati seperti litium dan amitriptilin juga berpotensi membahayakan ginjal.
Sebab, obat ini bisa merusak otot sehingga terjadi pelepasan mioglobin ke dalam aliran darah. Akibatnya, ginjal bekerja menyaring mioglobin yang mengakibatkan kerusakan.
Obat penstabil suasana hati seperti litium dan amitriptilin juga berpotensi membahayakan ginjal.
Sebab, obat ini bisa merusak otot sehingga terjadi pelepasan mioglobin ke dalam aliran darah. Akibatnya, ginjal bekerja menyaring mioglobin yang mengakibatkan kerusakan.
12. Obat Diuretik
Dilansir dari WebMD, obat diuretik dipakai untuk mengobati tekanan darah tinggi dan beberapa jenis pembengkakan.
Obat ini juga bantu membuang kelebihan cairan. Namun, obat-obatan ini berisiko membuat tubuh dehidrasi.
Akibatnya, hal tersebut berdampak buruk bagi ginjal. Contoh obat diuretik seperti torsemide, furosemide, bumetanide, dan ethacrynic acid.
Itulah daftar suplemen dan obat yang dapat membahayakan ginjal untuk diperhatikan penggunaannya. Sebelum mengonsumsi suplemen atau obat apa pun, lebih baik dikonsultasikan dengan dokter dulu.
Obat ini juga bantu membuang kelebihan cairan. Namun, obat-obatan ini berisiko membuat tubuh dehidrasi.
Akibatnya, hal tersebut berdampak buruk bagi ginjal. Contoh obat diuretik seperti torsemide, furosemide, bumetanide, dan ethacrynic acid.
Itulah daftar suplemen dan obat yang dapat membahayakan ginjal untuk diperhatikan penggunaannya. Sebelum mengonsumsi suplemen atau obat apa pun, lebih baik dikonsultasikan dengan dokter dulu.
Cerita dari Irawan Sapto Adhi Kompas.com

0 Comments:
Post a Comment